Menyesal Setelah Resign, Apakah Salah?
Bekerja merupakan sarana aktualisasi diri bagi seorang manusia. Ada seseorang yang rela bekerja dengan giat demi bisa menabung untuk masa depan. Di sisi lain ada orang yang justru menikmati waktunya dengan berleha-leha di rumah, tanpa mengandalkan pekerjaan apapun dan hanya bergantung kepada orang tua serta saudara lainnya.
Kalau saya pribadi lebih suka bekerja bahkan pernah di masa dimana saya menjadi seorang workaholic. Namun jalan hidup membuat kita terkadang harus memilih diantara 2 pilihan, apakah mau tetap terus bekerja atau resign alias mengundurkan diri.
Ada beberapa motivasi ketika seseorang itu resign, misalnya saja:
- Tidak tahan dengan lingkungan kerja yang toxic
- Kondisi kesehatan yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja
- Memiliki rencana lain seperti ingin membuka usaha sendiri
- Harus merawat keluarga yang sakit, seperti orang tua misalnya
- Dan beragam alasan lainnya.
Kita tidak bisa menghakimi alasan seseorang untuk resign dari pekerjaannya. Mungkin mereka yang resign memang sudah tidak kuat dengan lingkungan tempat kerjanya. Bisa jadi jika terus dipaksakan bekerja maka bisa menimbulkan depresi berat.
Kalau kondisi mental sudah terganggu, maka bukan tidak mungkin hidup seseorang akan semakin berat. Dampaknya bisa meluas, salah satunya bisa merepotkan anggota keluarga lain misalnya.
Tentu kita tidak ingin hidup menjadi beban bagi orang lain. Namun menyesal setelah resign pun terkadang pernah menghampiri sebagian orang, tak terkecuali diri saya sendiri.
Sebenarnya bukan masalah harus berpisah dari kantor lama, melainkan setelah resign tidak ada kegiatan yang bisa saya lakukan. Memang bekerja sebagai seorang freelancer itu menyenangkan karena tidak terikat jam dan hari kerja.
Tapi kalau boleh jujur saya rasakan, saya rindu bekerja di balik meja dan menghadap layar komputer. Saya rindu memecahkan masalah di pekerjaan meskipun kadang cukup berat untuk dicari solusinya.
Namun nasi sudah menjadi bubur, dan saya sudah hampir 2 tahun resign dari kantor lama. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain mempertanggung jawabkan keputusan ini. Yang lucu adalah, kenapa perasaan rindu bekerja justru datang ketika menginjak 2 tahun resign? Kenapa tidak dari awal resign saja, perasaan itu hadir.
Wajar kok, karena ketika awal-awal resign, kita pastinya ingin istirahat total. Istirahat setelah bertahun-tahun bekerja itu ibarat surga dunia. Kita tidak lagi harus mengurus urusan pekerjaan, tidak lagi dihubungi bos untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor.
Tapi seiring berjalannya waktu, istirahat pun akan terasa cukup sehingga kita seolah membuka mata dari tidur panjang dan dihadapkan pada kenyataan bahwa, "kita ini sudah bukan karyawan lagi statusnya".
Setelah tersadar dari kenyataan bukan karyawan lagi, maka perasaan jadi campur aduk antara sedih, menyesal hingga kehilangan.
Kita bingung harus bagaimana ini ke depannya. Jadi freelancer ternyata cukup sulit karena pendapatan yang tak pasti diterima setiap bulan. Kalau ramai ya uang kita banyak sebagai freelancer. Akan tetapi kalau tawaran sedikit maka mau tidak mau bisa-bisa kita gigit jari.
Pekerjaan freelancer itu bagi sebagian orang ternyata tidak bisa dijadkan sebagai penghasilan utama juga. Terutama bagi saya yang suka bekerja dan bahkan cenderung workaholic.
Namun waktu tidak bisa diputar kembali. Saya berusaha mensyukuri setiap langkah dan keputusan yang diambil dalam hidup ini. Mungkin ke depannya bisa saya jadikan pelajaran.
Resign dari kantor lama merupakan keputusan yang harus saya pertanggung jawabkan dalam hidup ini. Insha Allah saya tidak menyesal keluar dari pekerjaan sebelumnya. Memang saya rindu bekerja kembali namun bukan berarti menyesal resign dari kantor lama.
Yang saya sesalkan adalah resign-nya. Entah apakah ini pembenaran atas keputusan yang saya ambil. Wallahu A'lam.

Posting Komentar untuk "Menyesal Setelah Resign, Apakah Salah?"