Makan Nasi Kuning Banjar Membuat Saya Ingin Kembali ke Balikpapan
![]() |
| Bing Image Creator |
Delapan belas tahun tinggal di Kalimantan tentu menyisakan banyak kenangan untuk saya. Ada keinginan untuk kembali lagi namun sepertinya tidak mungkin. Selain tidak punya sanak saudara di Kalimantan, khususnya kota Balikpapan, saya pun pasti harus menyesuaikan diri lagi jika ingin menetap di sana.
Berbicara mengenai kuliner, sebenarnya ada banyak kuliner yang telah saya cicipi ketika di Balikpapan. Meskipun waktu itu masih terbilang remaja namun saya masih ingat, makanan apa saja yang sudah saya cicipi.
Ada 2 kuliner khas Kalimantan yang akan membawa saya ke masa-masa ketika tinggal di Balikpapan yaitu Soto Banjar dan Nasi Kuning Masak Habang. Sebenarnya kedua kuliner itu aslinya dari Kalimantan Selatan (CMIIW) namun di Balikpapan keduanya cukup populer.
Apalagi nasi kuning kerap dijadikan menu sarapan. Sementara soto ayam bisa dijadikan menu makan siang.
Ketika dulu di Balikpapan, ada warung langganan almarhum Bapak untuk beli nasi kuning masak habang. Beliau selalu beli di warung dekat kantor pos. Entah sekarang masih ada belum kantor posnya.
Kenapa sih saya masih terngiang-ngiang kenangan ketika di Balikpapan? Jawabannya adalah karena dulu keluarga saya masih lengkap berkumpul. Almarhum Bapak masih hidup dan kami berlima masih tinggal dalam satu rumah.
Kalau sekarang kedua kakak saya sudah tinggal di kota berbeda dan setahun sekali pun belum tentu mudik karena biaya akomodasi mudik yang cukup besar.
Balikpapan dan Surga Kulinernya
Zaman tahun 1990-an mungkin tempat kuliner belum sebanyak sekarang. Namun saya cukup ingat betul ada beberapa tempat kuliner di Balikpapan yang masih diingat bahkan sampai sekarang saya sudah di Surabaya.
Ada yang namanya Pantai Melawai dimana ketika malam ada banyak pedangan kuliner seperti jagung bakar dan pisang gapit yang berjualan di sana.
Kalau malam, banyak muda mudi nongkrong di Pantai Melawai. Saya sih ke sana bareng keluarga, dan itupun hanya sekadar ingin tahu seperti apa suasana Pantai Melawai di malam hari.
Zaman dulu belum ada cafe kekinian sehingga pantai bisa jadi destinasi tepat untuk nongkrong warga lokal.
Lalu ada kawasan wisata kuliner di area Kantor Pos pusat Balikpapan. Kita warga Balikpapan memang selalu menyebutnya dengan kantor pos karena memang lokasi kulinernya pas di samping kantor pos.
Berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman no. 1 Balikpapan, saya lihat memang lokasinya wisata kuliner di kantor pos masih tetap ada namun tentu saja lebih tertata.
Di Kantor Pos, seingat saya kuliner yang paling banyak dijual ikan bakar. Maklum saja, Balikpapan sebagai kota yang dekat dengan laut pastinya menghasilkan banyak produk ikan segar.
Mungkin nasi pecel dan rawon jarang kita temukan di Balikpapan ketika tahun 90-an. Namun saya pernah diajak makan almarhum Bapak di nasi pecel Tulung Agung dan rasanya cukup enak. Saya lupa alamatnya dimana namun seingat saya hanya rumah makan itu saja yang menjual nasi pecel.
Btw, ada jajanan khas Balikpapan mirip pentol dan cilok tapi lucu deh namanya. Namanya adalah SALOME. Hah? Whattt? Iya, salome adalah pentolnya Balikpapan. Rasanya mirip pentol di Surabaya sih. Saya masih ingat lho rasanya, hehehe. Saking itu jadi jajanan kegemaran ketika SD.
Kenapa Ingin ke Balikpapan
Dari TK hingga SMA saya besar di Balikpapan sehingga ada banyak kenangan masa kecil yang tertinggal di sana.
Saya ingin ke Balikpapan bukan untuk menetap melainkan untuk nostalgia sejenak mengenai beberapa lokasi yang cukup memorable.
Beberapa lokasi yang ingin saya kunjungi:
- Rumah dinas ketika menetap di Balikpapan
Keluarga saya sempat pindah dua kali di kota Balikpapan di area yang tidak terlalu jauh. Pertama di Jalan Warukin dan yang kedua di Jalan Bongas.
Ada banyak kenangan di dua rumah dinas tersebut. Kalau rumah dinas kedua, saya hanya menghabiskan waktu bersama kedua orang tua saja sebab kedua kakak melanjutkan SMA di pulau Jawa yaitu di Surabaya.
Zaman dulu, konon lulusan dari pulau Jawa akan lebih mudah masuk perguruan tinggi katanya. Hal inilah yang memotivasi almarhum Bapak untuk menyekolahkan kedua kakak saya di Surabaya. Nyatanya, kedua kakak saya malah tidak lolos di PTN dan malah saya yang lolos kuliah di kampus negeri, hehehe.
- Sekolah mulai dari TK hingga SMA
Jadi sekolah saya itu letaknya hampir berdekatan. TK dekat dengan SMA, SD malah jadi satu gedung dengan SMP.
Dulu ketika sekolah selalu ada bus dari kantor almarhum bapak yang menjemput kami di jalan utama sehingga para orang tua tak perlu khawatir melepas anak-anaknya.
Namun kalau pas saya masih TK sih, Ibu masih suka antar jemput ya sebab sekolah TK saya jaraknya hanya 300 meter dari rumah.
Kenangan yang saya ingat adalah kalau naik bus, saya dan teman-teman suka berebut tempat duduk. Kami paling suka duduk di depan sendiri karena angin semilir cukup bikin ngantuk.
Kalau tahun 90-an sekolah masih diwajibkan untuk tatap muka, namun di zaman sekarang anak bisa sekolah menggunakan metode pembelajaran homeschooling. Bagi kalian yang ingin mengetahui serba serbi hoomeschooling, bisa baca Blog Tulisandin karena di blog tersebut ada kategori yang khusus membahas homeschooling.
- Lapangan merdeka
Nah, kalau 17 Agustus saya dan beberapa siswa yang ditunjuk biasanya akan upacara di Lapangan Merdeka. Tapi kalau tidak salah saya hanya beberapa kali saja karena mengaku tidak kuat dengan teriknya matahari ketika berdiri berjam-jam untuk upacara.
Lapangan merdeka ini bisa dibilang alun-alunnya kota Balikpapan karena semua warga lokal akan tumplek blek di sana untuk sekadar nongkrong.
Nah, kebetulan SD dan SMP saya dekat sekali dengan Lapangan Merdeka, mungkin hanya sekitar 200 meter.
Kalau sekarang saya lihat di media sosial, kalau bulan puasa seperti sekarang, banyak orang ngabuburitnya di Lapangan Merdeka. Duh, jadi kangen banget nih sama Balikpapan.
- Lapangan Persiba lama
Jadi dulu Lapangan Persiba lama berada di depan SMA tempat saya bersekolah. Dan selain dijadikan latihan para pemain sepakbola, kami para siswa SMA juga bisa kok latihan olahraga disana.
Warga lokal yang ingin berolahraga juga bisa menggunakan lapangan Persiba namun hanya di luarnya saja. Sekarang lapangan Persiba lama sudah dipindah ke daerah Batakan kalau yang saya baca di media online.
Ternyata dari bahas kuliner, saya bisa menulis secara lengkap mengenai memori selama tinggal di Balikpapan belasan tahun lamanya.

Posting Komentar untuk "Makan Nasi Kuning Banjar Membuat Saya Ingin Kembali ke Balikpapan"