Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Kebiasaan Berutang: Ini Akibat Negatifnya

 

Utang merupakan kegiatan meminjam sejumlah uang dalam nominal tertentu yang dilakukan oleh seseorang. Motif meminjam uang bermacam-macam, sebut saja:
  1. Memenuhi kebutuhan berhari-hari dan sifatnya urgent
  2. Berutang hanya untuk kebutuhan yang tidak urgent atau bisa dikatakan foya-foya. 
  3. Gali lubang tutup lubang
Jika memang kamu sedang dalam kondisi terdesak, maka berutang itu boleh kok dan sah-sah saja. Mau bagaimana lagi jika kita sedang benar-benar tidak punya uang sementara ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Sebagai contoh anak sakit, nah kita orang tua tak mungkin tinggal diam. Walau tak punya uang, namun demi kesembuhan anak maka apapun akan dilakukan oleh orang tua.

Utang pun bisa dari berbagai sumber, misalnya saja:
  1. Pinjam saudara atau kerabat
  2. Pinjam ke kantor tempat bekerja sebagai salah satu fasilitas yang karyawan dapatkan.
  3. Berutang melalui pinjaman online, kartu kredit maupun koperasi.
Saya ingin bercerita sedikit bahwa tahun 2013 diri sendiri juga pernah berutang yang dimana akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Waktu itu saya sempat memiliki kartu kredit dan pertama kali punya rasanya excited banget.

Namun kembali lagi, ada rasa ketidak nyamanan di hati manakala melihat tagihan yang cukup besar pada kartu kredit, hingga saya putuskan untuk menutupnya.

Bagi saya pribadi utang bisa menimbulkan dampak negatif apabila penggunaannya hanya untuk kebutuhan konsumtif belaka. Adapun dampak negatif dari berutang antara lain:
  • Menimbulkan rasa candu atau ketagihan
Ketagihan karena sudah kebiasaan berutang bisa terjadi pada seseorang yang memang tidak berniat melunasinya.

Bagi orang yang ketagihan berutang akan menganggap masih ada hari esok untuk membayar utang-utangnya. Namun bagaimana jika hari ini juga ajal menjemput orang yang punya kebiasaan berutang?
  • Menjadi malas dalam hidup
Saya punya teman yang selalu gali lubang tutup lubang dan sehari-hari dia nampak malas dalam beraktivitas. Kerjaannya selalu main games dan kurang produktif menurut saya. Saran saya tidak pernah digubris mengenai wacana melunasi utang kartu kredit. Sangat disayangkan sebenarnya. Namun kembali lagi, itu adalah pilihan hidupnya.

Jika Anda memiliki utang, maka seharusnya bisa lebih giat bekerja untuk membayar utang-utang itu. Bukan justru tambah malas dalam bekerja dan beraktivitas. 
  • Jauh dari Tuhan
Saya bukan seseorang yang pandai dalam agama. Saya cuma manusia biasa yang tak luput dari dosa. Namun usia saya semakin tua dan harus berhati-hati dalam bersikap, salah satunya ketika hendak berutang.

Saya akui masih memiliki utang namun jumlahnya tak banyak. Masih dalam nominal yang masuk akal, itupun utang untuk produktifitas pekerjaan. Yang saya lihat ketika seseorang terbiasa berutang, maka gaya hidupnya semakin hedon dan tidak bisa mengerem keinginan.
  • Tidak pernah merasa cukup
Misalnya seseorang punya kartu kredit dan kebiasaan menggesek, maka dia akan merasa masih punya limit untuk berutang dan akan melakukannya lagi. Padahal limit kartu kredit itu bukan uang kita, melainkan saldo pinjaman yang diberikan oleh bank dan tentu saja harus dibayar.

Terkadang berbelanja menggunakan kartu kredit bagai fatamorgana yang tidak kita sadari. Di depan seolah nampak air namun setelah kita dekati yang ada hanyalah gurun pasir. Jika tidak kita bayar maka tagihan akan menumpuk, dan telepon akan berdering lebih sering untuk menagih utang Anda.

Penutup

Berutang untuk kebutuhan yang mendesak itu sah-sah saja dilakukan. Apabila kalian sudah punya uang lebih, segeralah kembalikan karena memiliki utang itu berat pertanggung jawabannya di akhirat dan juga kepada orang meminjamkannya.

Hiduplah sesuai kemampuan dan jangan memaksakan apabila memang tidak punya.

Posting Komentar untuk "Jangan Kebiasaan Berutang: Ini Akibat Negatifnya"